Bertahan Pada Proses, Karena Mie Instan pun Butuh Proses.

Salah satu teman berdiskusi gua berkata


"Ada dua tipe orang, ada yang Bertahan dengan pola nya ada yang bertahan dengan tujuan nya."


Tentu nya sebagai manusia berganti ganti cara itu baik. Tapi terkadang berganti terlalu cepat itu tidak bisa di benarkan


Bayangkan kalo lu menjadi pemilik sebuah perusahaan. Kenapa gua suka menggunakan contoh pemilik sebuah perusahaan, karena kaum milenial dan kamu gen Z suka mimpi sebagai pemilik perusahaan.


Tapi kalo mimpi tidak berjalan dengan usaha, akan terdengar seperti janji palsu dengan diri mu sendiri.


back to the story, that's the case.


Ada dua tipe kandidat :


Yang pertama, selama 10 tahun terahkir selalu berganti tempat kerja setiap tahun nya walaupun begitu, dia mengatakan bahwa dia menguasai dan bisa menginterpretasikan ilmu nya di perusahaan lu.


Ada kandidat yang selama 10 tahun hanya pernah bekerja di 3 perusahaan. 3 tahun di perusahaan yang pertama, 3 tahun di perusahaan kedua dan yang terahkir 4 tahun.


Dan statement nya sama. Dia bisa menginterpretasikan ilmu dan menguasai ilmu nya.


Mana yang lu pilih? Tentu yang 10 perusahaan kan? Karena untuk kandidat pertama, jaminan dia untuk tetap tinggal lebih dari 1 tahun setelah menjabat CEO perusahaan lu.


Kecuali kandidat pertama kita gemini, rada wajar tuh. Grasak Grusuk sana sini.

(Biasa nya gemini ga gampang tersinggu kok, jadi tenang)


Kalo dari sisi pandang gua, gua akan memilih yang kedua. Kenapa karena dia mempercayai process. sama hal nya layaknya orang tua lu yang membutuhkan proses untuk percaya sama lu. It takes times. Enak dan buruk, rasain semua.


Tentu revisi dan pergantian rencana itu perlu, tapi membiarkan hal itu berjalan untuk periode waktu tertentu hingga lu merasa menemukan kelebihan dan kekurangan nya itu perlu.


Dari dulu juga begitu, yang paling sulit bertahan sama pilihan. Bukan memilih.


Karena seringkali ketika process nya berjalan, bertahan dengan pilihan bukan sebagai jawaban singkat yang dipahami semua orang.


Dan gua harus diakui hingga saat ini terkadang masih seperti itu.


Tapi untuk konten gua hingga saat ini, noxious advocate dan quarter side monologue, gua bertahan hingga saat ini.


Apakah fame yang gua cari? Enggak.

Apakah duit yang gua cari? Enggak juga.


Gua seneng aja ngejalanin nya. Ngerecord segala hal. Perjalanan gua terutama.


Tapi ternyata dengan merecord semua nya baik bentuk tulisan atau medium lainnya, membuat gua berhasil menciptakan sesuatu.


Mungkin gua bisa menciptakan perspective baru.


Dengan itu cara gua berkarya dan berkarya adalah pilihan yang gua ambil sedari dulu.


Karena ada satu pelajaran yang gua ambil dari konsep berubah pilihan tersebut.

Bayangkan hanya jika gua ga menyerah dengan pilihan gua dulu untuk berusaha di saat kuliah, mungkin gua sekarang sudah bisa hidup dari karya atau usaha gua.


Tapi apalah anak kuliahan seperti gua dahulu yang sok visioner tidak paham apa - apa. Sehingga membuat usaha belum menjadi prioritas utama gua.


Gua memilih fokus dengan kuliah, walaupun tidak bisa dipertanggung jawabkan kalimat sebelumnya dengan IPK yang pas pas an. Sehingga pada titik dimana umur yang sudah produktif menghasilkan akhir nya gua memilih untuk mencari kerja seperti manusia lain nya.


Sayang nya sesuai dengan kutipan Martin Luther King, Jr.


mimpi gua untuk berkarya atau menghasilkan sesuatu atau hidup dari menciptakan sesuatu muncul kembali. Akhirnya untuk kali ini, gua memilih untuk mendengarkan kata hati gua dan berusaha melakukan sesuatu tentang itu.


karena gua baru memulai berkarya atau berusaha, maka gua harus membangun usaha gua di sela - sela waktu kerja gua.


Lelah tapi itu yang harus gua tempuh, Karena jika nanti nya gua menunggu momen yang tepat, tidak akan pernah ada.


Pilihan gua hanya satu, lakukan dan mencoba bertahan sekuat tenaga dengan pilihan itu, atau menyerah dan hidup layaknya zombie.


Sayang nya gua mengambil pilihan pertama dan siapapun elu, gua berharap lu mengambil pilihan tersebut.


1 view0 comments

Recent Posts

See All