Can We Skip To the Good Part?

Updated: May 10

Hallo, Selamat datang kembali di Noxious Advocate. Setelah sekian lama, akhirnya gua menemukan ritme gua kembali untuk menghasilkan regular sesuai pertama kali gua memulai hal ini.


Kali ini gua mau membahas soal beberapa hal yang datang dan mungkin tak pernah dilalui oleh orang tua kita, “this is out generation thing” which is Internet.


Pintu Kemana saja bernama Internet


Sebenarnya pada research nya, Internet pertama kali dimulai pada tahun 1969 khusus nya untuk kebutuhan militer untuk bisa membagi data nya, namun dimulai tahun 1990an, Indonesia mulai memasuki kehidupan dimana internet menjadi sebagian kecil hidup kita hingga sekarang mungkin, Internet sudah menjadi 80% ataupun 100% kehidupan daily.


Bahkan hingga aspek yang tidak masuk akal sekalipun, internet bisa membantu kita menemukan apa yang kita cari. Ingat ketika kita masih kecil tidak boleh ikut orang yang tidak dikenal? Damn, we are using Gojek or Grab to travel.


Kita minta tolong orang yang tidak dikenal untuk membelikan kita makan dan minum ataupun sekedar berbelanja. Bahkan, kita masuk di tahap dimana kita bisa menemukan orang yang bisa jadi pendamping hidup kita dengan aplikasi semacam Bumble, Tinder, etc.


Walaupun, kenyataannya gua sudah pernah melakukan “Online dating” jauh sebelum aplikasi ini berkembang. I really understand what the internet is capable of.


Semua perkembangan ini berkembang sewajarnya untuk membantu hidup manusia menjadi lebih mudah.


Dulu orang tua mu akan menghemat 20.000 dengan cara berjalan kaki 20 menit. Sekarang kita akan mengeluarkan 20.000 untuk menghemat waktu 20 Menit. We are in the opposite of the spectrum of our parents.

Suka atau tidak, Pada jaman generasi boomer komoditi terbaik adalah uang. Itu kenapa orang tua kita memilih mengorbankan waktu nya demi uang. Sekarang, komoditi terbaik yang manusia miliki adalah waktu, itu kenapa kita berlomba - lomba menciptakan “Shortcut” agar bisa meminimaliskan waktunya yang dibutuhkan untuk perjalanan.


Generasi “Pemenang atau Pecundang” VS Generasi “Internet Itu kenyataan, Boom”


Seperti layaknya dunia yang akan selalu menemukan cara untuk menyeimbangkan. Semua perubahan dan perkembangan datang dengan pisau bermata dua.


Jaman dahulu, semua orang stay on their path. Berjalan di satu rute, untuk menemukan dirinya dan mencapai kesuksesan. Sehingga mereka bisa menghasilkan manusia yang sangat ahli dalam bidangnya, dikarenakan waktu lama yang dia habiskan untuk melakukan hal terus terusan berulang.


Pada akhirnya baru akan keliatan apakah dia berhasil atau tidak di jalur tersebut. Consistency is the key in this generation. Walaupun samar, tapi generasi ini memiliki semacara garis finish imajinasi tentang berapa banyak uang yang dihasilkan, seberapa penting posisi dan seberapa berhasil anakmu akhirnya.


Keterbatasan bidang dan industri akhirnya memaksa beberapa orang bertarung di jalur yang sama untuk mengalahkan satu sama lain. Parameter yang digunakan adalah parameter terukur, maka dari itu, normal sekali untuk menggambarkan seperti ini :


Bahasa gampangnya, gererasi tersebut melahirkan banyak Winner dan Looser.


How about our timeline? Terima kasih kepada internet, sekarang kita sudah jarang sekali mendengar istilah looser. Generasi ini, percaya pada kemampuan berbeda beda di setiap individu. Maka dari itu harus diakui, muncul banyaknya pilihan industri dan Skill Set, membuat setiap orang memiliki peluang untuk keluar dan menjadi terbaik di bidangnya.


We all won in our timeline,

We are the Main characters in our Movie


Good thing? Yes for sure. Tapi kecepatan putaran dunia dan Kemudahan akses nya menghilangkan esensi dari “proses” tersebut. Sekarang manusia ingin segala hal serba instan.


“Kalo dalam 1 minggu, penjualan ga naik. Artinya cara nya ga bekerja.”


Ingat diatas gua sebutkan bahwa komoditi terbaik manusia adalah Waktu, maka kita mencoba memaksimalkan waktu sependek - pendeknya atau secepat - cepatnya untuk hasil yang maksimal.


Sehingga sering sekali kita dengar kalimat “Kayaknya gua bukan disini dah” Atau “Kok gua gak ngerasa nyaman ya disini” setelah proses 3 bulan atau 6 bulan berjalan.

Long-term commitment is near the dead-end nowadays.


“Bahkan Mie Instan pun ada proses menunggu nya, Membesarkan api nya tidak akan membuat mie menjadi instan, tetep ada proses ngaduk - ngaduk sambil overthinking.


Keleluasan bidang dan industri membuat kita tidak perlu bertarung dengan satu sama lain, menentukan bidang apa yang cocok dengan kita tanpa harus saling menjatuhkan.


Yang sering kali terjadi adalah kita menghindari gesekan dan kompetisi atas nama “semua orang berharga” dan “Kolaborasi”. Salah? Nampaknya tidak karena ternyata kita memiliki goals berbeda satu sama lain.


Bahasa gampangnya, gererasi ini mungkin akan melahirkan banyak medioker.



Menggali pondasi sedalam Rumah, Mimpi membangun Gedung setinggi pencakar langit


Gua tau, istilah medioker tentunya akan memantik orang untuk berkomentar membela diri dan lainnya, tapi jika dihilangkan dari sudut pandang emosi nya, maka lawan dari kompetisi adalah kemenangan untuk semua orang. Sehingga kemenangan itu tak lagi berharga. Maka suka tidak suka, medioker akan banyak tercipta dari generasi ini.


Salah? Tentu tidak, namun kehilangan kesepakatan untuk menghilangkan goals yang sama antara masyarakat tentu nya akan menghilangkan nilai kompetisinya. Sehingga kini, manusia tidak bisa lagi ditentukan oleh sesuatu yang terukur.


Menghilangkan kompetisi dan Goals yang terukur adalah domino awal yang menyebabkan kita kehilangan fire power to be the best. Because everyone’s best is different now.


Gua selalu mengagumi atlet - altet olahraga yang ada karena kemampuan mereka untuk berlatih seumur hidupnya, hanya untuk bertarung beberapa menit dalam pertandingan.

Memaksa diri melampaui batas normal, sambil menunggu giliran/kesempatan dalam hidupnya datang.

Kita harus akui, kita tidak akan bisa membangun fundamental dan pengetahuan, kemampuan dan skill dalam waktu singkat tapi berharap bisa bertarung dengan orang - orang yang hidup nya sudah berlatih ribuan jam adalah misi bunuh diri.


Kita tidak bisa berlatih 1 jam setiap hari bermain sepakbola dan berharap bisa menjuarai World Cup. Mungkin cukup untuk menjuarai liga tarkam.


Atau mungkin kita berenang setiap hari setiap Weekend dan berharap mencapai level Michael Phelps yang berhasil meraih total 28 Mendali di olimpiade dan 23 darinya adalah mendali emas.


Iya mike, tapi kan gua gamau sampe atlet dunia segala? Iya, betul. Itu sekarang lu paham kenapa gua bilang medioker kan. Medioker bukan hal yang buruk bagi generasi sekarang.


Betul kalo lu tanya generasi boomer, tentu buat mereka tidak cocok.

They all Rise or Die Trying.



So Can we Skip To the Good Part?


The answer is yes and no. Kenapa? Karena kembali lagi ke what kind of Good part yang lu maksud. Kalo cuma buat hepi - hepi mabok - mabok an sama temen, atau ngeliatin sunset di pinggir pantai. Gua yakin, THR lu juga udah cukup sih buat ngelakuin itu.


Tapi kalo goals lu untuk hidup sesuai passionate yang lu pilih atau Menjadi Pengacara terbaik di Indonesia, atau mungkin bisa pesiun sebelum umur 35. You cannot skip to the good part. Memang kita harus melewati berdarah - darahnya, miskin - miskinnya, Lelah dan ragu dengan apa yang lu lakukan. Karena Good Part ada di ujung sana. Goals terukur yang lu bangun untuk dirilu sendiri.


Nanti baru kita paham, bahwa Good Part yang kita maksud adalah ketika kita mencapai goals tersebut atau justru kebagian atas perjalanan dan pengorbanan yang dilakukan untuk mencapai goals tersebut.



“The flame that burns Twice as bright burns half as long.” - Lao Tzu


6 views0 comments

Recent Posts

See All