Cinta Seharusnya Menyenangkan

Gua kali ini mau membahas beberapa hal mengenai percakapan gua dengan salah satu teman dekat gua kemarin soal cinta cinta an.


Sebenarnya, gua juga gabisa bilang bahwa gua adalah dokter cinta atau semacam nya. Gua terkadang punya perspective berbeda entah bagaimana cara nya dalam memandang suatu hal.


Jadi mungkin, beberapa kawan kawan gua sedikit lebih percaya dengan beberapa hal yang gua katakan. Terlepas dari mungkin beberapa dari mereka sedikit banyak tahu track record tentang percintaan gua.


Anyway, kembali ke topik yang utama. Bahwa dia bercerita soal hubungan nya dengan kekasih nya yang dulu tiba tiba terhubung lagi. Entah bagaimana mereka bercerita soal kembali berhubungan. Benih benih cinta itu mulai muncul


Tapi itu yang normal terjadi di kehidupan semua orang. Beberapa orang diluar sana memaksakan hidup bersama hanya karena sudah lama dan sudah investasi terlalu banyak dengan pasangan nya. Terlepas dari masih mencintai atau tidak, pasangan nya sudah menjadi bagian dari hidup nya.


Ada juga yang pernah bercerita dengan gua bahwa mereka bertahan hanya karena mereka sudah terlalu malas untuk mencoba dengan orang baru lagi. Bagaimana jika orang baru nanti tidak sesuai ekspektasi dan mencintai mereka seperti yang sekarang. Berarti akan ada proses perkenalan lagi, pdkt dan semacam nya.


Dan mungkin yang paling sering gua denger, terutama dari sisi perempuan adalah bahwa mereka percaya bahwa pasangan nya bisa berubah menjadi lebih baik. Mereka percaya jika mereka dibutuhkan untuk membantu pasangan nya berubah menjadi lebih baik. It’s love they said.


Apapun itu, setiap orang selalu memiliki alasan untuk bertahan.


Tapi Setelah gua mendengar semua cerita dari berbagai manusia tentang hubungan nya, normal nya gua akan bertanya satu pertanyaan template yang gua selalu tanyakan.


Love supposed to be fun, right?

Bukankah cinta seharusnya menyenangkan?


Tapi tentunya banyak orang yang akan mengatakan seiring berjalan nya waktu, semua hal akan berubah dan menjadi lebih rumit. It’s not about love anymore.


Gua paham, tentu banyak orang diluar sana yang memilih pilihan pasti dibandingkan selalu mencari.


Karena walaupun gua belum menikah dan memiliki anak, gua sangat sering mendengar pernyataan tentang kawan gua yang kisah cintanya seperti di atas, lalu menikah dengan orang yang sama dan mengungkapkan statement “Gua bertahan karena anak gua”.


Akhirnya anak lu nanti nya akan tumbuh besar mengenal hal tersebut adalah cinta dan the cycle continues. Lingkaran itu akan terus berulang, dan nanti nya mungkin anak cucu lu mengatakan hal yang serupa.


Hanya karena ketakutan lu untuk meyakini bahwa cinta seharusnya menyenangkan dan memilih untuk menerima siapapun dia yang sudah terlalu lama singgah.


Sayang nya, seperti pepatah bilang


“Rejeki lu, bukan hanya rejeki lu doang.”

Sama nilai nya dengan


“Keputusan lu, dampak nya bukan hanya untuk lu doang”

Dan satu ketakutan kecil tersebut bisa berdampak untuk orang dan keturunan lu nanti nya, sehingga pergeseran akan definisi cinta dari bersenang senang menjadi hitung - hitungan matematika basic.


Makanya ketika gua denger omongan “Gua bertahan karena anak gua”, Gua akan selalu berkata


“Lu seharusnya lakuin apapun yang bikin lu bahagia, dari kerjaan lu, hubungan lu, kehidupan lu. Apapun itu. Biar anak lu tau, bahwa bahagia itu adalah menikmati hidup, naik dan turun nya lu nikmatin. Bukan cuman sekedar melalukan apa yang semesti nya menurut sosial.”


Mungkin lu harus memperbaiki hubungan lu dengan man in the mirror, sehingga lu paham tentang apa yang lu suka dan tidak, apa yang lu mau dan tidak, apa yang lu bisa terima dan tidak. Sehingga cinta kepada diri sendiri akan membawa diri lu menginginkan orang disekeliling lu mencintai diri nya juga.


Bukankah menyenangkan nanti nya, jika anak lu ditanya mau jadi apa dalam hidup nya, dia akan bilang “Aku mau jadi seperti ayah.”


It’s up to you.


2 views0 comments

Recent Posts

See All