Kamu Bisa Lebih Dari Hari ini

Halo selamat siang. Ga terasa udah selama ini gua ga menulis karena jadwal belakangan yang cukup padat. Sekarang gua mau bahas soal hal yang dulu nya cukup berkembang sekarang. Sekarang jadi obrolan bumbu di percakapan generasi tanggung seperti kita.


Let's talk about "Love Yourself"


Kenapa? Karena saat ini, hampir saat ini gua temui di social social media bahwa penting nya to accept who you are.


Mari kita mulai dari awal,

Seiring dengan berkembangnya kekuatan social media untuk mengarahkan satu generasi menuju suatu titik tertentu. Dimana membuat sebagian anak umur kepala 2 berpikir harus bisa mencapai posisi "Figure it out how the world works."


Yang berakibat rusaknya kepercayaan diri terhadap diri nya sendiri ketika mereka tidak mencapai mimpi - mimpi siang bolong tanpa rencana dan aksi.


Sehingga "Love Yourself" sebagai perban yang membalut luka basah bernama ketidakpercayaan diri.


Sama seperti luka yang perlu proses untuk kering dan sembuh, tak selalu membalut luka menjadi hal yang bagus. Terkadang proses ini justru memanipulasi kenyataan bahwa melindungi luka dari proses penyembuhan adalah hal terbaik.


Maka muncul solusi simple nan agung.

Love Yourself.


Tentunya kalo gua bilang Love Yourself adalah salah satu proses salah, gua dengan senang hati akan memukul diri gua sendiri karena topik tersebut adalah salah satu topik yang paling banyak gua bahas di tulisan gua.


Gua paham, dengan konsep itu. Tentu nya dengan ramai nya soal issue berkembang tentang menjadi “who you are” , dimana kebebasan menjadi dirilu sepenuhnya diagung - agungkan kan.


Tapi kesalahan terbesar dari Love Yourself adalah penggunaan nya dalah segala hal.


--------------------------------------------------------------------

"Anjir, Gua males banget kerja"

"Udahlah, Emang gua gini orangnya"

"Aduh gua lagi ga Mood banget nih ngapa -ngapain setahun belakangan"


"Gapapa, Love Yourself."

--------------------------------------------------------------------


Wait, What?


Ketika penggunaan love yourself yang overused, sehingga phrasa tersebut melayang tingg mendekati puncak rantai jawaban seadanya yang dihuni oleh "Sebabut" dan "Nanti di kabarin"


Ketika semua hal bisa dibantah dengan love yourself.


Salah? Enggak. Tapi love yourself selalu dikaitkan dengan menerima diri sendiri apa adanya.


Sejujurnya, menurut gua Love Yourself adalah jawaban atas keraguan orang untuk menunjukan diri nya yang sebenarnya, bukan tembok tinggi untuk lari dari tanggung jawab.


Loves yourself means you treat yourself like someone who helps too. ⁃ Jordan b Peterson

Maka dari itu love yourself becomes irrelevant when you talk to a kid, who becoming reckless because he just loves himself. Seseorang yang lari dari tanggung jawab kepada masyarakat.


Dia yang menolak bergerak, menolak berdampak ke dunia, dimulai dari orang orang sekitar dan keluarga nya.


Karena masih muda, maka tidak ada salah nya mencoba menggunakan definisi Love Yourself di tempat seharusnya.


Grow up and figure it out. Get yourself act together. Find a way or create “your own way” to make it happens.


Karena ketika ada seseorang yang memiliki potensi begitu besar, namun menolak melakukan sesuatu hanya karena tanggung jawab yang akan dipikul dalam prosesnya,

maka dia sudah berhasil melukai orang - orang yang dicintai nya, keluarga yang membesarkan dia, lingkungan yang menerima dia, dan tubuh yang berjalan bersamanya.


“Love yourself means to love yourself, the problem begins when you beg the world to love you as you do.”


Gua berharap lu bisa menemukan jalan lu menjalani hari demi hari, sambil menjaga Love Yourself dan What I Can Do To Be Better di porsi yang seimbang.


0 views0 comments

Recent Posts

See All