Kebahagian mu, Bukan kebahagian Orang tua mu

“A man must love his father and yet be free of his father's expectations and criticisms in order to be a free man.” - David Dieda, The way of Superior Man

Sebagai manusia yang tumbuh di lingkungan asia, terlebih asia tenggara yaitu Indonesia, tentu hal - hal yang paling lazim kita temukan adalah ketika seorang laki - laki baru pergi atau meninggalkan rumah nya ketika status dari “bujang” berubah menjadi Menikah.


Namun jika dibandingkan dengan budaya barat dimana mereka setelah beranjak umur 18 tahun bukan lagi tanggungan dari orang tua nya, maka isu ini akan lebih dekat dengan permasalahan budaya Timur.


Ketika pertama kali mendengar tentang kutipan diatas, that hit me hard. Sebagai laki laki yang tumbuh dari keluarga mid class sebagai anak laki laki pertama, orang tua yang memiliki gelar tinggi dalam dunia pendidikan, datang dari kakek seorang pejuang. Sering kali gua mendengar harapan - harapan dari para tetua gua agar anak - anak nya menjadi sukses dan melampaui para pendahulu gua.


25 years old, gua tumbuh menjadi lelaki yang mengejar sesuatu yang dinamakan “Sukses”. Sampai ahkirnya di suatu titik ketika gua membaca buku tentang The way of Superior Man berulang - ulang kali. Sampai di satu titik dimana gua mulai bertanya definisi dari kesuksesan.


Bahwa gua ternyata selama ini, mengejar sukses definisi dari orang tua gua. Gua mengejar sukses definisi dari orang orang sekitar gua, orang - orang yang paling gua sayang di hidup gua.


I chasing their dream. Ternyata definisi dari kesuksesan gua dan orang tua gua berbeda dari yang mereka miliki. Ternyata memiliki uang banyak, gelar ternama dan dipandang orang sebagai panutan keren, tapi mimpi gua ternyata tidak sebatas pandangan orang. Mimpi gua adalah ketika gua bisa menghasilkan sesuatu dari apa yang gua suka.


Tapi tentunya, sebagai orang yang masih menumpang di rumah orang tua nya, apa yang kau harapkan? Tentu harus hidup sesuai peraturan yang berlaku dan gua 100 agree with that. Tapi apakah berarti gua tidak bisa menjadi “free man” seutuhnya?


Tentu bisa. Ada 2 pilihan ketika lu masih mengendap dalam sayap orang tua lu. Shut up and deal with it or find a way though it.


Bagaimana menemukan cara untuk mengejar passion/kesuksesan mu ketika orang orang disekitar mu tidak mendukung mu?

Cara yang orang normal lakukan adalah bergerak gerilya, bergerak dalam gelap malam. Kerja atau kuliah di pagi hari, lalu saat malam, semua orang beristirahat. Maka disana waktu yang tepat untuk memulai proses mengejar mimpi lu.


Entah membuat online shop di marketplace, entah mulai menulis dan merekam lagu, entah mulai mereview sesuatu, entah mengambil kelas di internet. Whatever it takes, karena pilihan nya hanya beristirahat hari ini dan menyerahkan semua nya kepada yang di atas, dan berdoa khusyuk meminta “semua akan indah pada waktunya” atau mengorbankan sediki waktu istirahat lu untuk sesuatu yang lu cintai.


Karena menurut gua, gaada yang salah dengan berharap dan berdoa,. But that doesn’t sounds like a plan or strategy in my eyes.


Atau cara lain nya adalah keluar dari rumah ketika lu menemukan kerjaan yang bisa membiayai kehidupan mu pribadi dan entah nge kos atau apapun itu. find a place to stay. Mulai bangun kerajaan mu dari tempat kecil mu.


Tentu pelarian ini tidak semata - mata membuat diri lu menjadi terbebas dari ekspektasi dan kritik dari orang tua mu (Ayahmu). Tapi, itu akan membatu diri lu secara mental dan realita menjadi lebih pribadi yang mandiri dan terbebas.


Sehingga nanti nya proses ini membantu kamu.


Gua paham ada orang yang menyiapakn mental nya terlebih dahulu sebelum melangkah, tapi gua lebih suka untuk membiarkan tingkah laku lu bergerak terlebih dahulu, sehingga mental lu nanti nya akan terbiasa dengan situasi tersebut dan dipaksakan untuk siap.


Karena pada dasarnya, ketidaksiapan orang untuk mengkonfrontasi who he/she is atau what they really want dikarenakan karena dia tidak memiliki power of bargain atau kekuatan daya tawar atas hidup nya. In this case, lu dengan orang tua lu.


Tinggal di rumah orang tua, weekend pake mobil orang tua, makan dimasakin orang tua, bayar pajak kendaraan diurusin orang tua, berangkat kerja dibangunin orang tua, ada masalah orang tua nya yang bantu selesain,


Wajar aja mereka masih memperlakukan lu kayak bocah ingusan. So get yourself some. Coba berdiri di kaki sendiri, cari kerjaan, keluar dari rumah. Pikul beban lu sendiri, sehingga nanti nya orang tua tahu, bahwa anak kesayangan nya sudah tumbuh memiliki sayap nya sendiri.


Dari situ baru lu bisa start chasing your dream, if you have any dan kehidupan kedua lu dimulai.


“You have two lives. The second begins when you realize you only have one." - Confucius
6 views0 comments

Recent Posts

See All