Perjalanan Mengenal Diri Sendiri Part III : Mengenal, lalu berdamai.

Melanjutkan Trilogy Perjalanan Mengenal Diri Sendiri Part II Kadang yang paling sulit di hidup bukan berubah, tapi berdamai.


Gua mungkin udah menulis materi soal berdamai dengan diri sendiri berulang ulang ya. Tapi gua sadar ini adalah salah satu yang terpenting dalam proses mengembangkan diri.


Suka ga suka, process tersebut harus dilewati akhirnya untuk membuat lu maju ke tahap berikutnya.


Ketika sebelumnya kita sudah membahas soal, bagaimana cara nya mengenal diri sendiri. Sekarang waktu nya mengenal diri lu lalu berdamai dengan diri lu sendiri.


Permasalahan nya, berdamai ga hanya soal "yaudah gua orang nya begini."


Berdamai adalah soal menerima konsekuensi nya dari apa yang lu lakukan. Baik hal konsekuensi yang akan di terima ataupun kenikmatan yang akan di dapatkan.


Gua sering banget kena konsekuensi dari berdamai dengan diri sendiri.


Sebagai buruh office hours, mencari mencari pekerjaan yang lebih baik normal di lakukan.


Dan itu yang gua lakukan.

Permasalahan nya adalah gua salah satu sedikit manusia yang ga main sosial media.


Ga ada yang special. Tentu gua punya beberapa alasan tersendiri gua ga main social media. Cuma in the end, it just a thing aja kan.


Sama kayak gua suka NBA, mungkin sebagian dari lu ga doyan. Dan gapapa.


Permasalahan nya karena orang normal nya menggunakan social media, dan sehingga banyak citra diri dilihat dari sana


Buat gua, Sosial Media cuma another thing on the Internet. Banyak hal di internet yang gua lakukan, cuma gua ga make sosmed. Bukan berarti gua anti sosmed atau anti internet.


Tapi kenyataan nya keputusan gua itu menjadi pedang bermata dua.


Gua sangat menikmati dengan circle gua yang sekarang, kehidupan gua yang sekarang, goals dan percakapan yang terjadi di dunia nyata.


So I have nothing to do on social media.


Kembali ke soal buruh tadi, jadi gua dalam process melamar ke salah satu perusahaan besar di Indonesia.


Posisi oke, gaji kayaknya oke.


Interview lewat interview gua jalanin. Ternyata info terakhir dari si user, karena berhasil membeli “hati” nya, dia bilang oke.


Walaupun gua juga gatau pendapat dia apakah benar - benar oke ke gua doang atau ke semua orang.


Datang lah hari dimana salah satu perwakilan team HRD menghubungi gua. Gua masih ingat jelas apa yang beliau katakan ke gua.



“Dari user dan team ok sih mas, saya mau tanya. Kemarin saya coba search di internet, ga ada muncul sosmed nya mas Michael ya? Soalnya setiap karyawan kami menjadi representative dari perusahaan kami. Jadi kami hanya ingin memastikan semua nya berjalan sesuai SOP”

Salah? Enggak. Gua paham betul maksud beliau. Maka jawaban yang gua berikan benar - benar jujur dengan apa yang terjadi.


Gua bilang bahwa gua sudah menghapus sosial media hanya karena gua ga suka dan ga merasa terlalu penting untuk kehidupan pribadi gua. Bukan menyembunyikan atau terkait masalah.


Tapi gua tau hal itu bisa menghancurkan kesempatan gua bergabung dengan perusahaan tersebut.


Karena jawaban yang gua dapat setelah itu adalah “nanti saya komunikasikan dulu ke team terkait ya pak”


Dan bener aja. Di hari yang sama masuk email permintaan maaf tidak bisa melanjutkan ke proses selanjutnya.


Dan besar kemungkinan karena hal tersebut.


Di moment itu tentu ada perasaan kesal dan marah. Satu ke pihak perusahaan karena mereka menolak karena hal remeh menurut gua, di satu sisi gua kesal dengan diri gua sendiri karena gua “sok sok an idealisme” katanya.


Proses tentu proses. Toh sekarang gua ada di posisi dimana kalau terjadi penolakan karena hal yang sama. Gua tahu itu kesalahan mereka.


It's their loss. It’s no longer mine.


Gua mungkin kehilangan waktu berharga gua. Tapi segala waktu yang dihabiskan untuk menambah pengalaman atau pembelajaran bukan waktu yang terbuang sia sia


Hal tersebut akhirnya gua terima hanya karena gua sudah berdamai dengan diri sendiri.


Gua gak lagi menyalahkan dunia, it’s always you who has control over yourself.

Dan itu adalah satu satu nya hal yang perlu gua lakukan.


As a man who loves himself, untuk sekarang ini gua sudah tidak lagi di posisi untuk menuhankan sesuatu dan menganggap kegagalan sebagai sesuatu personal.


Dilain sisi, ternyata tidak menggunakan social media juga memberikan dampak lain ke gua. Diatas gua menyatakan bahwa menenal dan beramai dengan diri sendiri akan memberikan lu hal baik ataupun buruk.


Tentu cerita di atas cukup miris dibaca dimana gua gagal masuk ke salah satu perusahaan bonafit hanya karena memilih untuk tidak menggunakan social media.


Namun, ternyata dengan tidak menggunakan social media, segala hal menjadi lebih indah dari sudut pandang gua.


Gua tidak lagi memiliki ketakutan tentang fomo, gua tidak lagi terlalu tertarik dengan apapun yang sedang ramai dibicarakan.


I'm just walking on my path.


Dan harus diakui, hubungan pertemanan gua sangat menyenangkan sekarang. Gua hanya mengenal teman teman gua di kehidupan asli nya saja. Tidak ada lagi menilai seseorang dari account social media nya.


Dan ternyata tidak berhenti sampai disitu, menjadi misterius seperti tidak menggunakan social media itu harus diakui menjadi daya tarik tersediri untuk sebagian kaum hawa. Percaya atau tidak, tingkat ketertarikan perempuan menjadi berbeda hanya karena gua mengatakan tidak menggunakan social media.


Terlihat seperti lelaki yang tidak mau menghabiskan waktu nya di social media, padahal gua hanya ga tertarik saja.


Namun pada akhirnya, baik atau buruk nya, pahit atau manisnya konsekuensi mengenal lalu berdamai dengan diri sendiri sudah bisa gua terima, sehingga gua tak lagi menyesali segala sesuatu yang terjadi hanya karena gua memutuskan menjadi seperti itu.


because I truly believe that me as different human is the reason why I survive until today. I hope you love yourself just like I do.


4 views0 comments