Menikmati kekalahan seperti kobe

Hallo Selamat pagi, siang sore ataupun malam untuk yang sedang membaca tulisan ini.


Jadi kali ini gua ingin menulis tentang salah satu pemain basket yang gua cukup kagumi dengan work ethic nya. Mungkin ga hanya gua, tapi hampir seluruh pecinta basket akan mengakui tentang kerja keras yang dia miliki.


Sayang nya gua disini bukan untuk membahas tentang biografi nya atau tentang kerja keras tersebut. Tapi gua membahas dia terkait dengan suatu hal yang akan dialami semua orang yaitu kalah.


Kenapa tentang kekalahan? Karena dulu gua pernah mendengar wawancara kobe dengan salah satu press conference setelah mereka kalah.


Salah satu dari panel penanya tersebut menanyakan tentang salah siapa dari kekalahan mereka?


Apakah front office?

Apakah kesalahan pelatih yang tidak bisa beradaptasi?

Atau dari para pemain yang tidak tampil cukup maksimal?


Dari interview tersebut, kobe menjawab kurang lebih seperti ini.


“Ini bukan salah siapapun, mereka (lawannya) memiliki team yang lebih baik maka mereka berhak atas kemenangan tersebut”

Tentu semua orang menghormati jawaban tersebut pada saat itu, ketika kamu adalah leader dari team tersebut maka beban kekalahan team nya pun suka tidak suka harus kamu pikul.


Waktu berlalu lewat, sampai dimana kejadian menyedihkan bahwa Kobe Bryant dan putri nya mengalami kecelakaan helikopter yang menyebabkan kedua nya meninggal dunia.


Tentunya, sebagai era dari informasi. Maka akan banyak keluar cuplikan tentang kobe baik dari game nya saat masih berkarir ataupun wawancara dia.


Dari semua yang gua tonton, gua menemukan satu kutipan menarik dari dia. Wawancara nya ketika sudah pensiun menjadi pemain basket profesional.


Ketika ditanya perihal cuplikan dia atas respon yang dia katakan pada saat kekalahan adalah


“Kalo lu ga bisa terima kekalahan atau kegagalan ini karena salah lu, maka lu gabisa mengakui bahwa kemenangan ini karena lu. “

Dan pernyataan ini sangat masuk akal. Gak adil kalo lu kalah lu nyalahin orang lain dalam hal ini wasit mungkin atau keadaan. Tapi ketika menang lu mengagung kan kehebatan diri lu.


Disaat mendengar pernyataan diatas, gua merasa sesuatu yang sangat menarik untuk dinikmati.


“Kata kata mutiara dan inspiratif akan selalu mudah untuk dikatakan dan dibuktikan sampai giliran mu tiba.”


Sampai di suatu momen di hidup gua dimana salah satu bisnis yang gua jalankan dengan kawan kawan gua tidak berkembang sesuai ekspektasi.


Jadi gua mulai mengeluh tentang kawan yang tidak suportif, pasar yang tidak cukup paham tentang value kami ataupun kompetitor yang memiliki dana yang lebih besar.


Kekalahan ini bukan salah gua tapi salah keadaan sekitar gua yang tidak mendukung.


Sampai akhirnya video wawancara itu muncul lagi ke beranda YouTube gua.


It hits like a fucking hurricane.


Seperti merasa ditelanjangi, gua merasa bawah gua selama ini adalah masalah dari kekalahan tersebut.


Kalau saja gua lebih pintar untuk berkomunikasi dengan partner bisnis gua.

Kalau saja gua bisa menentukan spesifik pasar yang mau gua masuki

Kalau saja gua lebih bergantung pada ide dan eksekusi bukan money.


Jadi gua terima semua kesalahan nya. Semua kegagalan tersebut 100% kesalahan gua.


Ini salah gua.


Tapi ketika kalimat terakhir tersebut selesai gua ucapkan, maka ada perasaan lega di seluruh tubuh. Ada perasaan iklas atas kegagalan dan kekalahan tersebut.


Tapi bukan berarti berhenti sampai disitu, bahwa disisi lain ada otak yang berjuang mencari cara untuk memperbaiki segala hal.


Sayang nya, sama seperti Kobe gua menolak gagal tanpa perjuangan, kegagalan gua harus terjadi karena gua tidak bisa melakukan apa apa lagi.


Hanya kalah, bukan berarti gagal.


Maka akhirnya gua muncul dengan ide dan mulai mengeksekusi nya kembali.


Walaupun rasa kesal akan kekalahan itu tidak akan luntur sedikit pun. Namun sekarang gua tahu rasanya


Untuk menikmati kekalahan seperti Kobe Bryant.


“Rest in the End, not in middle” - Kobe Bryant.


#LiveForever, Black Mamba.




19 views0 comments