Perempuan tidak selalu benar, mereka hanya ingin didengar.

Jadi melanjutkan artikel dari ini, bahwa matre itu bukan sesuatu yang berhubungan dengan perempuan. Walau betul, banyak perempuan diluar sana yang “Matre” tapi sering kali sebenarnya konsep tersebut adalah konsep laki laki.


Karena sesungguh nya, sebesar besar nya mimpi makhluk Feminine. Yang terpenting buat mereka adalah membangun hubungan yang didambakan. Menghabiskan waktu bersama orang tersayang, menjaga dan merawat apapun.


Justru di lain sisi, konsep Maskulin adalah konsep menaklukan, mendominasi, memimpin. Mencapai kekuatan tertinggi di bidang tertentu atau di circle tertentu akan membuat dirimu lebih percaya diri. Dan uang harus diakui adalah salah satu faktor mencari kekuatan termudah.


Jadi selain beberapa alasan di artikel sebelumnya, matre itu sebenarnya konsep maskulin. Jadi kalo ada perempuan yang tidak mau sama kamu, bukan karena mereka matre. Karena perempuan ga doyan aja sama tingkah laku lu.


Cut the bullshit.


Kenapa gua bahas hal ini sebelum masuk ke cara berkomunikasi laki - laki dan perempuan?

Karena gua sadar bahwa, cara berkomunikasi adalah cara menyampaikan apa yang ada di otak dan perasaan, digabungkan membentuk suatu kata kata


Puitis banget si anjing.


Tapi In the end, lu paham maksud gua.


Udah baca sampe sini menandakan otak mu berjalan.


Masih sanggup? Lets go.


Kenapa gua bahas detail mengenai ini, adalah karena gua sering kali denger pernyataan bahwa


“Perempuan Selalu Benar, laki - laki selalu salah”

“Perempuan selalu berdebat ga jelas, mike”


Karena berdebat dengan perempuan dan meyakinkan diri lu sebagai laki - laki benar adalah salah satu hal yang akan menghabiskan waktu lu.


Yang maskulin mau berdebat untuk menang, yang feminim berdebat buat didengarkan.


Tujuan aja udah beda. Kalo liburan tujuan satu ke bali, satu ke medan, gimana cara nya.


Karena sama seperti konsep


“Perempuan Selalu Benar, laki - laki selalu salah” adalah konsep yang sama dengan konsep “Wanita Matre”. Tentu ada perempuan di luar sana yang memiliki maskulin lebih tinggi.


Tapi kebanyakan wanita ga mau menang, mereka cuma mau di dengerin. Klise sih emang, cuma kapan terakhir kali lu dengerin dia ngomong tanpa membantah?


It’s hurt man ego to listening something non-sense by your logic, but sadly that’s how woman communicate, by feeling.


Proses paling susah ketika gua melakukan hal ini adalah omongan dia terkadang menyayat telinga dan logika gua.


Gua sudah mau mengatakan hal - hal semacam


“Udah gua bilang kan kemarin masih aja…”

Atau

“Apaan sih lu gajelas..”


Tapi gua memutuskan untuk mendengar, keluh kesah dia walaupun hal ini sudah dibahas berulang kali.


But today is the day, fuck it. Kalo gua mau hasil yang berbeda, maka gua berhenti melakukan hal yang sama.


Maka dari itu gua mulai mendengarkan cerita hari hari di kantor, bos yang tukang marah dan teman nya yang suka ngomongin orang. Everything bro.


Gua nyimak aja, ga main hape, ga melakukan sesuatu hal yang lain. Dengerin.


Sampai di ujung cerita nya, gua mengatakan

“Kamu mau akan dengerin aja, atau mau aku kasih saran?”


Kalo lu sudah sampai ke tahap itu. Lu akan liat tone nada dia yang berubah, suara nya yang mulai manja lagi.


Kalo dia minta saran, kasih tau dia apa yang menurut lu bener, tapi kasih dia kebebasan buat milih.


Kalo dia minta di dengerin, udah diem aja. Diem. Awal - awal susah, cuma lama lama terbiasa.


Itu akan membuat lu menjadi laki laki yang bisa mengontrol emosi. Ga ada point nya untuk memenangkan argumen dengan pasangan lu. Lu akan membuat pasangan lu terlihat lemah dan kalah dan tidak ada yang menyenangkan untuk menghabiskan waktu hidup lu bersama orang yang lemah dan kalah.


Anggap saja itu sebagai latihan lu buat menghadapi dunia. Elu ga perlu melakukan membuat semua tempat jadi tempat bertarung lu.


Pasangan lu bukan tempat lu buat bertarung.


Kembali ke topik di awal. Karena bahasa yang digunakan berbeda, maskulin dengan logika dan feminim dengan hati nya. Maka untuk pertikaian/perdebatan akan menghabiskan waktu.


Dan biasa nya, laki - laki akan mengalah demi ketenangan. Padahal menang dalam argument bukan kemauan dari sang perempuan. Mereka cuma mau didengar.


Tapi karena ketidakpahaman manusia manusia tersebut, maka sering keluar statement


“Wanita selalu benar”


Cuman mungkin itu dulu buat saat ini. At least lu mengetahui bahwa wanita ga selalu benar, mereka selalu ingin didengar dan tugas laki - laki bukan meyakinkan perempuan dengan logika nya, tapi membantu mereka memahami diri nya dengan cara nya mereka.


Dengan cara? Mendengar.


Ada satu kutipan dari penulis buku “How to be 3% man” Corey Wayne, salah satu guru terbaik.


Jika di dalam bahasa indonesia nya akan menjadi


“Laki - laki itu seperti gunung, perempuan itu alam semesta. Terkadang mereka (Perempuan) bisa memberi lu hari yang cerah, tiba tiba hujan, tiba tiba pelangi, tiba tiba badai. Tau apa yang gunung lakukan? Dia diam. Dia akan tetap menjaga ketenangan lalu bertanya “Kamu kenapa?””


7 views0 comments

Recent Posts

See All